counters
Tampilkan postingan dengan label Pemahaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemahaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2014

Faraid

1. Serahkanlah jatah warisan yang telah ditentukan itu kepada pemiliknya. Adapun sisanya, maka bagi pewaris laki yang paling dekat nasabnya

  • Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra.:
    Bahwa Nabi saw. bersabda: Orang muslim tidak dapat mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak dapat mewarisi orang muslim. (Shahih Muslim No.3027)
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Berikanlah jatah warisan yang telah ditentukan itu kepada pemiliknya. Adapun sisanya, maka bagi pewaris laki yang paling dekat nasabnya. (Shahih Muslim No.3028)
2. Pembagian harta warisan kalalah (mayit yang tidak meninggalkan ayah dan anak)
  • Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
    Aku sakit, lalu Rasulullah saw. dan Abu Bakar datang menjengukku dengan berjalan kaki. Kemudian aku pingsan, maka beliau berwudu lalu menuangkan (memercikkan) air wudunya kepadaku sehingga aku pun siuman. Kemudian aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana aku membagikan harta warisanku? Beliau tidak menjawab apa pun hingga turunlah ayat pewarisan yang berbunyi: Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. (Shahih Muslim No.3031)
3. Ayat yang terakhir diturunkan adalah ayat kalalah
  • Hadis riwayat Barra` ra., ia berkata:
    Ayat Alquran yang terakhir diturunkan adalah: Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. (Shahih Muslim No.3036)
4. Orang mati yang meninggalkan harta, maka hartanya untuk ahli warisnya
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. pernah didatangkan seorang mayit lelaki yang menanggung utang lalu beliau bertanya apakah ia meninggalkan harta untuk melunasi utangnya? Kalau beliau diberitahu bahwa mayit tersebut meninggalkan sesuatu untuk melunasi utangnya, maka beliau menyalatkannya. Dan jika tidak, beliau bersabda: Salatkanlah temanmu itu! Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya berupa penaklukan beberapa negeri, beliau bersabda: Aku lebih berhak atas orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Maka barang siapa meninggal sedang ia mempunyai utang, maka akulah yang melunasinya. Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk ahli warisnya. (Shahih Muslim No.3040)

Rabu, 20 Februari 2013

Pengetahun Sidik Jari di Alquran


Di sisi lain yang tak kalah penting dari berita yang disebutkan Alquran ialah tahap-tahap pembentukan manusia dalam kandungan ibunya. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam kandungan ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, selanjutnya otot terbentuk membungkus tulang-tulang ini.

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Lalu Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (Surat al-Muminun: 14)

Embryology adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari pembentukan embrio dalam kandungan ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam suatu embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, untuk jangka waktu yang lama, banyak orang mengklaim bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang diselenggarakan dengan keunggulan perkembangan teknologi baru telah menyatakan bahwa pernyataan dalam Alquran kata per kata adalah benar. Pengujian dalam skala mikroskopis ini menunjukkan bahwa pembentukan yang terjadi dalam kandungan ibu terjadi dengan cara seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut.

Pertama kali, jaringan tulang rawan dari embrio terbentuk. Kemudian sel-sel otot yang terpilih diantara jaringan yang mengelilingi tulang-tulang terbentuk dan membungkus tulang-tulang ini. Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah publikasi ilmiah dengan kalimat sebagai berikut:

Selama tujuh minggu, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuk sebagaimana umumnya. Pada akhir minggu ke tujuh dan selama minggu ke delapan otot menempati posisisnya menyelimuti bentuk tulang.

Singkatnya, tahap-tahap pembentukan manusia sebagaimana digambarkan dalam Alquraan sesungguhnya selaras dengan penemuan ilmu embriologi modern.

Dalam Quran pun disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam tiga tahap dalam kandungan ibunya. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Alloh, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?(Surat az-Zumar: 6).

Agar lebih dipahami, ditunjukkan dalam ayat ini, seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam 3 tahapan yang jelas. Sesungguhnya, ilmu biologi modern telah menyatakan bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam kandungan ibu.

Risalah Quran itu kini menjadi ilmu dasar pada semua textbook embriologi yang dipelajari dalam bidang pengobatan. Sebagai contoh, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi pokok dalam bidang embryology, fakta ini dibeberkan sebagai berikut: ''kehidupan dalam uterus memiliki tiga tahapan: pre-embrio; dua setengah minggu pertama, embryonic; sampai pada minggu ke delapan, dan fetal; dari minggu ke delapan sampai lahir.''

Di sisi lain, Quran pun menyebutkan Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematian, melalui adanya sidik jari manusia secara khusus dititikberatkan/ditekankan: Sebenarnya, Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna (Surat al-Qiyama, 3-4)

Penekanan pada sidik jari memiliki makna khusus. Hal ini dikarenakan sidik jari setiap orang bersifat unik bagi dirinya. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik. Itulah mengapa sidik jari dianggap sebagai tanda yang sangat penting pada kartu identitas bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang penting adalah bahwa sidik jari ditemukan pada akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai benda berbentuk lengkung biasa tanpa makna khusus. Namun, dalam Alquran, Allah menunjukkan sidik jari, yang tak sedikitpun menarik perhatian orang waktu itu, yang mengundang perhatian kita betapa berartinya dia, arti yang hanya dimengerti oleh jaman sekarang ini. 

Selasa, 04 Desember 2012

KEBENCIAN SUAMI PADA ISTRINYA

4. An Nisaa'
وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًۭا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًۭا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌۭ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًۭا

128. Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz[357] atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya[358], dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir[359]. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


[357]. Lihat arti nusyuz dalam no. [291]. Nusyuz dari pihak suami ialah bersikap keras terhadap isterinya; tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberikan haknya.

[358]. Seperti isteri bersedia beberapa haknya dikurangi asal suaminya mau baik kembali.

[359]. Maksudnya: tabi'at manusia itu tidak mau melepaskan sebahagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya, kendatipun demikian jika isteri melepaskan sebahagian hak-haknya, maka boleh suami menerimanya.

Jumat, 10 Agustus 2012

HIDUP YANG TAK PENUH



Apa konsekuensinya kalau kita menjalani kehidupan hanya berdasarkan hasil refleksi ungkapan orang lain atas diri kita, ketimbang menemukan dan mengolah keotentikandiri sendiri ?

Sebutir telur rajawali ditetaskan bersama-sama dengan telur ayam kampung. Setelah menetas, rajawali kecil tersebut hidup bersama anak-anak ayam kampung. Seperti layaknya hewan piaraan, mereka berkeliaran di kebun, parit-parit sekitar rumah, mencari cacing, ulat dan sisa-sisa makanan. Sama seperti “saudara-saudaranya” yang lain, rajawali kecil itupun tidak bisa terbang . Paling-paling hanya meloncat-loncat kecil. Yang jelas, kehidupan para unggas itu berjalan tenteram dan damai sampai akhirnya sang rajawali menjadi tua. Suatu siang ketika sedang mencari makan di kebun, matanya tertumbuk pada pemandangan indah di udara. Tampak olehnya seekor burung gagah perkasa terbang di antara pepohonan. Sayapnya yang berwarna keemasan mengepak-ngepak dengan indahnya.

“Hewan apakah itu ?” Saudaranya sesama ayam menjawab, “Oh, itu rajawali, si ‘Raja Burung’,” ujarnya.
“Tapi tempatnya nun jauh di atas kita. Kita sih kaum ayam, bisanya ya cuma begini ceker-ceker di tanah.” Si Rajawali kembali mencari cacing di tanah. Sampai mati ia tak pernah menyadari, dirinya bukan ayam kampung.

Inilah hidup. Pantas kalau W. Hugh Auden dalam kumpulan essainya The Dyers Hand (1962) mengatakan, image diri yang kuciptakan dalam pikiran supaya aku bisa mencintai diriku sendiri, ternyata berbeda dengan image yang kuciptakan dalam pikiran orang lain, agar mereka mencintaiku.

HIDUP BERMATABAT



Lukman al-Hakim, ahli hikmah yang namanya diabadikan dalam Alquran, ditanya oleh putranya, ''Apa yang paling baik dimiliki oleh setiap orang?''
Beliau menjawab, ''Agama!''
Sang anak kembali bertanya, ''Jika dua?''
''Agama dan harta.''
''Jika tiga?''
''Agama, harta, dan sifat malu.''
''Jika empat?''
''Agama, harta, sifat malu, dan akhlak yang baik.''
''Jika lima?''
''Agama, harta, sifat malu, akhlak yang baik, dan sifat dermawan.''
''Jika enam?''
Lukman berkata, ''Wahai anakku! Seandainya yang lima itu terkumpul pada seseorang, maka ia akan jadi orang yang bersih dan terpelihara ketakwaannya serta selamat dari godaan setan.''

Nasihat Lukman al-Hakim di atas mengungkapkan sisi ideal yang bisa mengangkat martabat kehidupan seseorang di tengah masyarakat, yaitu agama, harta, sifat malu, akhlak yang baik, dan sifat dermawan. Kelima hal tersebut perlu dimiliki oleh setiap orang.

Agama adalah kebutuhan hakiki dalam kehidupan manusia. Keberagamaan menjadikan kita memiliki kekuatan moral dan rohani sehingga mampu mengubah diri dan lingkungan kita. Sementara itu, harta juga diperlukan dalam rangka menjaga kehormatan diri, menghindarkan diri dari meminta-minta, serta untuk dapat menunaikan kewajiban agama dengan sempurna. Sebuah ungkapan dalam syair Arab, ''Alangkah indahnya bila terkumpul agama dan dunia pada diri seseorang, dan alangkah malangnya bila terkumpul kekafiran dan kemiskinan pada diri seseorang.''

Namun demikian, dalam meraih harta dan kekayaan, kita harus punya kendali diri, yaitu sifat malu. Bagi seorang Muslim, yang diutamakan bukanlah berapa banyak yang diperoleh, tetapi bagaimana harta dan kekayaan itu didapatkan. Jika tidak ada rasa malu, orang tidak lagi berpikir ''bagaimana seharusnya'' mendapat rezeki, tetapi adalah ''bagaimana secepatnya'' rezeki datang.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Perbuatan apakah yang menyebabkan seseorang dicintai Allah dan dicintai sesama manusia?'' Rasulullah menjawab, ''Jangan serakah terhadap harta, engkau akan dicintai Allah. Jangan tamak terhadap hak-hak orang lain, engkau akan dicintai sesama manusia.'' (HR Ibnu Majah).

Perjuangan meraih sukses dan kebahagiaan tidak dapat dilepaskan dari akhlak, moralitas, dan budi pekerti yang tecermin dari kesanggupan memisahkan norma-norma baik dan buruk. Di manapun, nilai materi tidak dapat menutupi kekurangan budi pekerti.

Selanjutnya akhlak yang baik harus melahirkan sifat pemurah atau dermawan. Hidup yang bermartabat adalah hidup yang memberi manfaat kepada orang lain, bukan hidup yang memanfaatkan orang lain. Singkatnya, hidup menjadi bernilai dan bermartabat jika kita memiliki lima hal yang dinasihatkan Lukman al-Hakim kepada putranya

Kamis, 09 Agustus 2012

ALLAH TIDAK MENERIMA IBADAH DAN PUASA

1. Anak yang durhaka pada kedua orang tuanya.

2. Istri yang durhaka pada suami

3. Orang yang memutuskan tali Silaturrahmi

4. Orang yang menyia-nyiakan fakir miskin dan anak yatim

Dusta/Bohong



ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yasin: 65). Pada zaman Rasululullah SAW ada seorang pemuda yang gemar berzina. Kegemarannya ini sudah diketahui oleh masyarakat. Bahkan, Rasul yang mulia pun mengetahui tabiat buruk sang pemuda.

Ketika banyak orang memeluk Islam, pemuda itu juga ingin memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu. Tapi, ia khawatir jika memeluk Islam kegemarannya itu akan dilarang oleh Sang Nabi. Maka, ia pun ragu-ragu antara ingin menemui Nabi untuk menyatakan niatnya memeluk Islam atau tak usah menemuinya sama sekali.

Namun, keinginannya untuk masuk Islam sangat kuat. Apalagi ia menyaksikan para tetangganya yang telah memeluk Islam hidup dalam ketenteraman dan kedamaian. Si pemuda pun penasaran, apalagi ketika ia mendengar dari para tetangganya itu bahwa Islam itu agama yang mudah dan tidak memberatkan. Maka, ia pun membulatkan tekadnya untuk menemui Rasulullah SAW.

Kepada Nabi ia utarakan niatnya memeluk Islam. Dan, alangkah senangnya ia ketika mendengar sendiri dari Rasulullah bahwa beliau tidak menyinggung-nyinggung soal kegemarannya itu. Rasulullah cuma menyebut satu syarat baginya untuk bisa memeluk Islam: ''Jangan berbohong!'' ''Kalau cuma itu syarat untuk memeluk Islam, baiklah wahai Rasulullah saya bersedia masuk Islam,'' jawab si pemuda.

Maka, dengan suka cita ia meninggalkan majelis Rasulullah untuk kembali kepada kaumnya. Di sepanjang jalan ia tak habis-habisnya bergumam, ''Islam ternyata memang gampang. Rasulullah cuma melarang saya untuk berbohong.''

Suatu saat si pemuda berhasrat untuk berzina. Namun, ia ragu melakukannya. ''Nanti kalau Rasulullah bertanya dari mana saya, lalu apa jawab saya? Saya pasti akan berkata seadanya. Sebab, Nabi melarang saya untuk berbohong,'' katanya dalam hati. Dan, ia pasti akan malu mengatakannya. Maka, niat untuk berzina itu pun ia tanggalkan. Begitu seterusnya, setiap kali muncul niatnya untuk berzina, maka setiap kali pula ia berhasil meredamnya. Akhirnya, ia sadar bahwa Islam melarang perbuatan zina.

Kisah ini menarik untuk kita simak manakala kebohongan sudah menjadi konsumsi masyarakat kita sehari-hari. Praktik mark-up, impor gula ilegal, illegal logging, laporan fiktif (yang di era Orba dikenal dengan istilah laporan ABS asal bapak senang), dan KKN, merupakan bagian dari tindak kebohongan.

Berbohong bukan saja akan mendatangkan kesengsaraan, tapi perbuatan itu percuma saja kita lakukan. Sebab, di akhirat kelak, sebagaimana disebutkan ayat di atas, panca indera kita akan mengatakan sejujurnya apa yang telah kita perbuat. Jika di dunia ini mulut kita bisa berbohong, di akhirat nanti perbuatan tercela itu tak bisa lagi kita lakukan. Sebab, saat itu mulut kita terkunci. Namun, tangan dan kaki serta anggota tubuh kita yang lainlah yang akan berbicara. Krisis multidimensi yang mendera bangsa ini akan segera berakhir manakala masyarakat dan pemerintah menjauhkan diri dari sifat bohong.

Rabu, 08 Agustus 2012

Beratnya Sebuah Amanah


Suatu ketika Khalifah 'Umar bin Khatthab RA, telah menyita seekor unta milik anak lelakinya sendiri, ketika dilihatnya unta itu berada di pasar. Beliau mengetahui benar bahwa unta itu menjadi gemuk karena digembalakan bersama-sama dengan beberapa ekor unta lain milik kaum Muslimin yang diurus oleh Baitul Maal.

Penyitaan tersebut dilakukan atas dasar alasan bahwa unta milik putera Amirul Mukminin itu, oleh penggembalanya digembalakan di suatu tempat penggembalaan yang paling baik. Hal itu oleh Khalifah 'Umar dipandang sebagai perbuatan menyalahgunakan kekuasaan negara karena unta itu bisa ditempatkan di tempat gembalaan yang paling baik disebabkan unta itu milik putra Amirul Mukminin. Karena itu beliau memerintahkan anaknya supaya segera menjual unta itu dan hanya diperbolehkan mengambil pokoknya. Sedangkan keuntungan dari penjualan tersebut diserahkan kepada Baitul Maal.

Karena tindakan hukum yang ketat itu, banyak para sahabat Rasulullah SAW, yang keberatan menerima pengangkatan sebagai pejabat negara, karena mereka paham betul bahwa jabatan tersebut memiliki konsekuensi yang sangat berat. Artinya, jabatan negara hanya layak diduduki oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan jabatan tersebut dengan benar.

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis yang berasal dari Abu Mas'ud Al-Anshariy, yang mengatakan sebagai berikut: Rasulullah SAW pernah mengangkatku sebagai petugas pengumpul zakat. Beliau berkata: "Hai Abu Mas'ud, berangkatlah, semoga pada hari kiamat kelak aku tidak akan mendapatimu datang dalam keadaan punggungmu memikul seekor unta sedekah yang meringkik-ringkik, yang kau curangi". Aku menjawab: "Jika demikian aku tidak berangkat!" Beliau menyahut: "Aku tidak memaksamu."

Demikianlah, para sahabat Rasulullah SAW telah memahami bahwa kedudukan atau jabatan pemerintahan adalah sebuah amanah yang berat. Pertanggungjawabannya tidak sebatas di dunia saja, melainkan juga di akhirat. Karena itu mereka tidak segan-segan menindak tegas orang-orang yang berbuat kecurangan, meski pelakunya berasal dari anggota keluarga mereka sendiri.

Mereka juga lebih memilih untuk tidak menjadi seorang pejabat, apabila khawatir tidak akan mampu memegang amanah kepemimpinan yang dibebankan di pundaknya. Kini orang bahkan berebut untuk meraih jabatan dan kedudukan dalam pemerintahan, dengan berbagai cara dan upaya. Hal itu dilakukan tanpa mempertimbangkan lagi amanah kepemimpinan yang harus dipertanggungkawabkannya di dunia dan akhirat kelak. Wal hasil, terjadilah banyak penyalahgunaan wewenang dan jabatan, hingga akhirnya rakyatlah yang menjadi korban

Bekal Hidup


Diceritakan, pada masa lalu penduduk Yaman tidak suka membawa bekal dalam perjalanan, termasuk perjalanan ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Mereka merasa cukup dengan tawakal kepada Allah. Namun, mereka ternyata menjadi telantar, lalu melakukan hal-hal yang tak terpuji, seperti meminta-minta, mencuri, dan merampas. Lalu, Allah berfirman:
 ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌۭ مَّعْلُومَٰتٌۭ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍۢ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
 ''(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.'' (Al-Baqarah: 197).

Bekal yang dimaksud dalam ayat di atas, menurut pakar tafsir al-Razi, mengandung dua pengertian, yaitu bekal fisik material (bekal dunia) dan bekal mental spiritual (bekal akhirat). Ini karena perjalanan yang dilakukan oleh manusia juga ada dua macam, yaitu perjalanan di alam dunia (safar fi al-dunya) dan perjalanan keluar dari alam dunia menuju negeri akhirat (safar minal dunia).

Kedua perjalanan ini membutuhkan bekalnya sendiri-sendiri. Perjalanan di alam dunia membutuhkan bekal makanan, minuman, kendaraan, dan sejumlah uang, sedangkan perjalanan menuju akhirat membutuhkan bekal yang lain lagi, yaitu iman dan takwa.

Perintah berbekal dalam perjalanan di dunia, menurut al-Razi, mengandung pula perintah agar manusia mengambil dan mempersiapkan bekal yang lebih baik lagi dalam perjalanan menuju akhirat. Dalam Alquran, perkara dunia dan akhirat itu sering disebut bersama. Selain tentang bekal di atas, perhatikan pula misalnya mengenai perintah berpakaian. Ketika disebut pakaian fisik, maka disebut pula pakaian takwa, libas al-taqwa 

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًۭا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًۭا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌۭ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
  Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
(Al-A'raf: 26).

Dikatakan pula di sini bahwa pakaian takwa adalah sebaik-baik pakaian, sebagaimana bekal takwa adalah sebaik-baik bekal. Bekal takwa seperti dikemukakan di atas merupakan bekal yang paling baik bagi manusia. Takwa secara bahasa bermakna sesuatu yang dapat menjaga dan memelihara diri dari kerusakan. Menurut Sheikh Muhammad Abduh, takwa adalah perkara yang membuat seseorang terjaga dan terpelihara dari azab dan murka Allah. Perkara itu tidak lain adalah iman, amal saleh, dan investasi kebaikan (al khair) dan kebajikan (al-birr).

Dalam suatu pengertian takwa dipandang sebagai akumulasi dari keseluruhan nilai yang diajarkan oleh Islam. Dalam pengertian ini, takwa menunjuk pada satuan-satuan nilai yang banyak sekali jumlahnya yang secara keseluruhan menggambarkan semangat dan cita-cita ideal Islam yang harus diwujudkan oleh kaum beriman. Dalam Alquran, adil dipandang sebagai nilai takwa (Al-Maidah: 8). Iman kepada Allah, shalat dan zakat, juga dinamai takwa

 ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ
 ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
 Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa
 (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
 (Al-Baqarah: 2-3). 
Begitu pula, memberikan infak, mengendalikan amarah, memaafkan, dan berbuat baik kepada sesama manusia, semuanya dinamakan takwa
 وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
 ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
 وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
 Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
 (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
 Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
 (Ali Imran: 133-135).

Takwa menjadi bekal terbaik, karena ia akan mengantar manusia memperoleh kebahagiaan abadi dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT di akhirat kelak. 

 إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍۢ وَنَهَرٍۢ
 فِى مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍۢ مُّقْتَدِرٍۭ
''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai,di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
.'' (Al-Qamar: 55). Semoga kita masih memiliki cukup waktu untuk memperbanyak bekal

Senin, 06 Agustus 2012

Akhlak Majikan dan Akhlak Budak




Abdullah bin Thahir bercerita: Pada suatu hari aku berada di sisi Amirul Mukminin al-Ma'mun, putra Harun ar- Rasyid. Dia kemudian memanggil pembantunya, seorang anak remaja Turki, "Ya ghulam!"

Anak itu datang dan berkata, "Tiap kali saya keluar dari sini, engkau selalu berteriak memanggil-manggil "ya ghulam". Sampai kapan panggilan ya ghulam, ya ghulam, kau serukan? Tidakkah seharusnya bagi seorang ghulam saat ini waktu makan dan minum?"

Al-Ma'mun hanya diam dan menundukkan kepalanya.

Aku mengira anak itu bakal dikenakan hukuman, tetapi ternyata tidak.

Al-Ma'mun kemudian mengangkat kepalanya dan berkata kepada budaknya itu, "Kamu mulai sekarang bebas (merdeka) karena Allah SWT."

Kemudian al-Ma'mun berkata, "Wahai Abdullah, bila seorang majikan berakhlak baik, maka akhlak pembantunya menjadi buruk. Dan bila ia berakhlak buruk, maka akhlak pembantunya menjadi baik. Namun tidak sepatutnya kita memperburuk akhlak kita agar akhlak pembantu kita menjadi baik!"

Dua Macam Pencuri



Seorang ulama besar, Umar bin Ubaid melewati kerumunan orang-orang yang sedang berdiri. Dia bertanya, "Apa maksud kerumunan orang-orang ini?"

Mereka menjawab, "Sultan sedang melaksanakan hukuman potong tangan terhadap seorang pencuri."

Umar berkata lagi dengan suara lantang, "Laa ilaaha illallaah. Pencuri terang-terangan memotong tangan pencuri yang sembunyi-sembunyi."

Hak Seorang Isteri



Ada sepasang suami isteri yang dihadirkan ke hadapan Hakim Ka'ab al-As'adi. Perkara suami isteri itu diajukan kepada Hakim karena pengaduan sang isteri terhadap suaminya sendiri.

Maka ketika sidang mulai digelar, dengan meratap, si isteri mengadukan halnya kepada sang Hakim.

"Tuan Hakim yang terhormat, aku mengadu kepadamu, memintamu untuk memberikan keadilan kepadaku".

"Ya baiklah. Tapi jelaskan dahulu perkara apa yang hendak kamu ajukan kepadaku!".

"Aku mengadukan suamiku. Aku benar-benar tidak suka dengan cara hidupnya selama ini. Setiap hari kerjanya cuma sibuk beribadah. Tempat tidurnya adalah masjid. Ia jarang sekali untuk datang tidur bersamaku di tempat tidur kami di rumah. Setiap malam kerjanya cuma shalat melulu. Kalau siang hari terus menerus puasa. Aku hampir-hampir tak pernah ia perdulikan. Aku betul-betul tidak senang dengan cara hidup yang seperti ini terus-menerus".

Mendengar pengaduan si isteri, hakim Ka'ab al-As'adi mengkonfirmasikan perihal tersebut kepada suaminya.

"Betulkah pengaduan oleh isterimu barusan itu?"

"Benar, Pak Hakim!".

"Kalau begitu, apa maksudmu dengan semua kegiatanmu yang terus menerus seperti itu?"

"Aku ingin menjadi ahli ibadah, Pak Hakim!".

Setelah tahu duduk persoalannya, Hakim Ka'ab lalu merenungkannya. Setelah mempertimbangkan jawaban-jawaban yang diutarakan sang suami secara mendalam, kemudian hakim memberikan keputusannya.

"Sebagai suami darinya, isterimu mempunyai hak atas dirimu. Kamu wajib memenuhi haknya itu. Allah SWT telah menghalalkan bagimu dua wanita, tiga wanita, atau sampai empat wanita untuk dapat kamu jadikan isterimu. Sekarang, isterimu kan hanya seorang. Itu berarti dalam empat hari berturut-turut kamu mempunyai waktu tiga hari untuk melakukan ibadah dan sehari dapat kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan biologis isterimu".

Keputusan hakim Ka'ab al-As'adi yang menetapkan tiga hari sekali untuk mengumpuli isteri membuat khalifah Umar bin Khattab terkagum-kagum. Atas kebijaksanaannya yang mengagumkan itu, kemudian khalifah mengangkat Ka'ab sebagai hakim di Basrah.

Isteri Yang Taat Kepada Suami



Ada sebuah kisah, bahwa pada masa Nabi SAW ada seorang laki-laki yang akan berangkat berperang, yang berpesan kepada isterinya :

"Hai isteriku janganlah sekali-kali engkau meninggalkan rumah ini, sampai aku kembali pulang." Secara kebetulan, ayahnya menderita sakit, maka wanita tadi mengutus seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW.

Rasullullah SAW bersabda kepada utusan itu : "Agar dia mentaati suaminya". Demikian pula si wanita, mengutus utusan tidak hanya sekali sehingga akhirnya dia mentaati suaminya dan tidak berani keluar rumah.

Maka ayahnya pun meninggal dunia dan dia tetap tidak melihat mayat ayahnya dan dia tetap sabar. Sehingga suaminya kembali pulang.

Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW yang berbunyi, Maksudnya : "Sesungguhnya Allah SWT telah mengampuni wanita tersebut, disebabkan ketaatannya kepada suaminya."

Jangan Kuatir Dengan Rizki Allah



Al-kisah ada seorang imam besar yang taat dan ahli hikmah. Beliau sungguh ingin membuktikan kepada dirinya sendiri juga kepada seluruh umat manusia, bahwa Allah selalu memberikan rizki dimanapun kita berada.

Akhirnya pada suatu waktu pergilah ia ke hutan dengan tidak membawa bekal sedikitpun.Dia memasuki sebuah gua yang ada dalam hutan tersebut. Dia benar-benar mencari tempat yang jarang di jangkau manusia,ia berdiam diri di ujung gua tersebut...

Sungguh Allah Maha Maha Pengasih dan Penyayang...

Hingga suatu waktu, cuaca sangat buruk dan turunlah hujan yang sangat lebat dan angin yang kencang. Dan ternyata, sekelompok kafilah tengah melintas di hutan tersebut sehingga mereka tidak bisa meneruskan perjalanan. Akhirnya mereka istirahat dan tanpa sengaja mereka memasuki gua yang mana Imam Jahidi ada di dalamnya. Ketika mereka memasuki gua tersebut mereka tidak menyangka sebelumnya, bahwa ada orang yang lebih dulu masuk ke dalamnya. Akhirnya kafilah tersebut melihat seorang manusia yang sedang terdiam dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.

Dengan lantang pimpinan kafilah memerintahkan kepada anak buahnya untuk memberikan makanan kepadanya! tetapi sungguh membingungkan..., karena Imam Jahidi tidak bergerak sama sekali, dia hanya diam seribu bahasa. Melihat hal tersebut, salah seorang dari mereka berkata..,wahai sahabat, mungkin dia kedinginan..? sehingga tubuhnya begitu kaku seperti ini..? akhirnya salah seorang dari mereka memberikan mantelnya yang hangat untuk meyelimuti Imam Jahidi, sementara yang lain membuat tungku api untuk menghangatkan badannya.

Tetapi apa yang terjadi...? Ia tetap diam tak bergerak sedikitpun. Salah seorang dari mereka berkata kembali "mungkin ia terlalu lama menahan lapar sehingga giginya mengetat..! maka dibuatkanlah untuknya susu yang segar dengan buah-buahan yang segar pula. Tetapi semua itu tidak merubah keadaan.

Karena merasa kasihan, dua orang dari kafilah tersebut mengambil sebuah pisau dan sendok untuk membuka mulut Imam Jahidi..., namun sebelum mereka akan membuka dengan paksa mulutnya terbuka dan Imam Jahidi tertawa sehingga membuat kaget orang yang ada disekitarnya..."Apakah kamu gila...?"

Imam Jahidi menjawab dengan lantang "tidak" aku tidak gila..! Sungguh Allah Maha Luas Rizki-Nya.

Janji Gombal



Seorang murid bertanya kepada mursyid yang membimbingnya ke arah pemahaman spiritual.

"Mengapa zaman sekarang banyak orang suka mengumbar janji, Guru?"

"Karena banyak orang merasa sok kuasa. Mereka merasa mudah berkata akan melakukan ini-itu, tanpa takut ditagih oleh orang-orang yang diberi janji, karena banyak cara untuk menghindar. Antara lain rekayasa dan lempar batu sembunyi tangan," jawab gurunya.
وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۚ وَأَوْفُوا۟ بِٱلْعَهْدِ ۖ إِنَّ ٱلْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔولًۭا
"Padahal keharusan menepati janji merupakan perintah Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya: Tepatilah janji, sesungguhnya janji itu akan ditagih (QS. Israa': 34)."

"Justru karena perintah Allah SWT manusia suka mengabaikannya. Sekarang ini lebih banyak orang berani melanggar hukum Allah daripada melanggar hukum manusia."

Karena Kejujuran, Cobaan Berubah Menjadi Nikmat


Dari Ibnu Syihab, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik, diriwayatkan, bahwa Abdullah bin Ka'ab bin Malik dia adalah penuntun Ka'ab dari anak-anaknya saat Ka'ab menjadi buta berkata: "Saya mendengar Ka'ab bin Malik bercerita tentang kisahnya saat tidak ikut dalam perang Tabuk.

Ka'ab bercerita, 'Saya tidak pernah absen dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja, saya juga tidak ikut dalam perang Badar, tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menegur orang-orang yang absen saat itu. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat itu hanya ke luar untuk mencegat kafilah onta yang membawa dagangan kaum Quraisy. Dan tanpa ada rencana sebelumnya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala memper-temukan kaum muslimin dengan musuh mereka. Tapi saya pernah ikut bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam (Baiatul) Aqabah, saat itu kami mengadakan janji setia terhadap Islam. Dan peristiwa ini lebih saya senangi ketimbang peristiwa perang Badar, walaupun perang Badar itu lebih sering dikenang oleh banyak orang!'

Sehubungan dengan perang Tabuk, ceritanya begini. Saya tidak pernah merasa lebih kuat secara fisik dan lebih mudah secara ekonomi ketimbang saat saya absen dalam perang itu. Demi Allah, saya tidak pernah punya dua kendaraan (kuda), tetapi ternyata saat perang itu saya bisa mempunyai dua kendaraan. Sebelum Tabuk, bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak para sahabat untuk perang, biasanya beliau selalu tidak menerangkan segala sesuatunya dengan jelas dan terang-terangan. Tetapi dalam perang ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berterus terang kepada para sahabat. Sebab, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan melangsungkan peperangan ini dalam kondisi cuaca yang sangat panas. Beliau akan menempuh perjalanan yang jauh, melalui padang pasir yang begitu luas. Dan beliau juga akan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan semua ini pada para sahabat. Saat itu, jumlah kaum muslimin memang banyak. Tidak ada catatan yang menyebutkan nama-nama mereka secara lengkap.'

Ka'ab berkata, 'Dari saking banyaknya, sampai-sampai tak ada seorang pun yang ingin absen saat itu kecuali dia menyangka tidak akan diketahui selagi wahyu tidak turun dalam hal ini.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melangsungkan perang Tabuk itu di saat buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan suburnya. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin telah bersiap-siap, hampir saja saya berangkat dan bersiap-siap dengan mereka. Tapi ternyata saya pulang dan tidak mem-persiapkan apa-apa. Saya berkata dalam hati, 'Saya bisa bersiap-siap nanti.' Begitulah, diulur-ulur, sampai akhirnya semua orang sudah benar-benar siap. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berkumpul bersama kaum muslimin untuk berangkat. Tetapi saya tetap belum mempersiapkan apa-apa. Saya berkata, 'Saya akan bersiap-siap sehari atau dua hari lagi, kemudian saya akan menyusul mereka setelah mereka berangkat.' Saya ingin bersiap-siap, tapi ternyata saya pulang dan tidak mempersiapkan apa-apa. Begitulah setiap hari, sampai akhirnya pasukan kaum muslimin benar-benar sudah jauh dan perang dimulai. Saat itu saya ingin berangkat untuk menyusul mereka, tapi sayang, saya tidak melakukannya. Saya tidak ditakdirkan untuk berangkat.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin keluar dari kota Madinah, aku keluar dan berputar-putar melihat orang-orang yang ada. Dan yang menyedihkan, yaitu bahwa saya tidak melihat kecuali yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang memang mendapat keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sementara itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebut-nyebut saya sampai beliau tiba di Tabuk. Di sana, beliau duduk-duduk bersama para sahabat dan ber-tanya, 'Apa yang diperbuat Ka'ab?' Ada seseorang dari Bani Salamah yang menyahut, 'Ya Rasulullah, dia itu tertahan oleh pakaiannya dan bangga dengan diri dan penampilannya sendiri.' Mendengar itu Muadz bin Jabal berkata, 'Alangkah jeleknya apa yang kamu katakan. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak mengetahui dari Ka'ab itu kecuali kebaikan.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diam.'

Ka'ab melanjutkan ceritanya, 'Ketika saya mendengar bahwa beliau bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Madinah kembali, saya mulai dihinggapi perasaan gundah. Saya pun mulai berfikir untuk berdusta, saya berkata, 'Bagaimana saya bisa bersiasat dari kemarahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam besok?'

Untuk itu, saya minta bantun saran dari keluarga saya. Setelah ada informasi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mulai masuk kota Madinah, hilanglah semua kebatilan yang sebelumnya ingin saya utarakan.

Saya tahu, bahwa tidak mungkin saya bisa bersiasat dari kemarahan beliau dengan berdusta. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah tiba, dan biasanya bila beliau tiba dari suatu perjalanan, pertama kali beliau masuk ke masjid, lalu shalat dua rakaat, kemudian duduk-duduk menemui orang-orang yang datang.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut berperang menemui beliau. Mereka mengajukan berbagai macam alasan diikuti dengan sumpah jumlah mereka lebih dari 80 orang- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima mereka secara lahir dan membai'at mereka serta memintakan ampunan. Adapun rahasia-rahasia hati, semuanya beliau pasrahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Saya pun datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau tersenyum sinis, kemudian berkata, 'Kemarilah!' Saya berjalan sampai duduk di hadapan beliau. Lalu beliau bertanya, 'Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Tidakkah kau sudah membeli kendaraanmu?' Saya jawab, 'Ya benar. Demi Allah, sekiranya aku sekarang duduk di hadapan orang selain engkau dari seluruh pendu-duk dunia ini, tentu aku bisa selamat dari kemarahannya dengan mengemukakan alasan tertentu. Aku telah di-karuniai kepandaian berdiplomasi. Akan tetapi, demi Allah, aku yakin, kalau hari ini aku berdusta kepada engkau dan engkau rela menerima alasanku, niscaya Allah akan menanamkan kemarahan diri engkau kepadaku. Dan bila aku berbicara jujur kepada engkau, maka engkau akan menjadi marah karenanya. Sesungguhnya aku mengharapkan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala .

Tidak, demi Allah, sama sekali saya tidak mempunyai alasan apa pun secara fisik dan lebih lapang secara ekonomi daripada saat aku tidak ikut serta dengan engkau.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Orang ini telah berkata jujur, bangun dan pergilah sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan keputusan dalam masalahmu ini!' Saya pun berdiri dan pergi. Saat itu orang-orang dari Bani Salamah mengikutiku, mereka berkata, 'Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui bahwa engkau pernah berbuat kesalahan sebelum ini. Mengapa engkau tidak mengajukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam alasan-alasan seperti yang dilakukan orang lain yang juga tidak ikut? Dan dosamu nanti akan hilang dengan istighfar (permintaan ampun) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untukmu.' Mereka terus menerus mencerca saya sampai-sampai saya sempat berfikir untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meralat pembicaraan saya yang pertama. Kemudian saya bertanya pada mereka, 'Adakah orang yang mendapatkan perlakuan sama denganku?' Mereka menjawab, 'Ya, ada dua orang lagi yang mengatakan seperti apa yang kau katakan dan mendapatkan jawaban seperti jawaban yang kau terima.' Saya bertanya lagi, 'Siapa mereka?' Mereka menjawab, 'Murarah bin Ar-Rabi' Al-Amry dan Hilal bin Umayyah Al-Waqify.' Mereka menyebutkan nama dua orang yang pernah ikut perang Badar dan mereka bisa dijadikan anutan. Setelah mendengar dua nama yang mereka sebutkan itu saya terus pergi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tidak ikut bersama beliau. Akibatnya, orang-orang semua meninggalkan kami dan sikap mereka pun berubah, bahkan dunia ini pun seolah juga berubah, tidak sama dengan dunia yang saya kenal sebelumnya.

Kami merasakan hal demikian selama 50 hari. Selama itu, dua teman senasib saya hanya berdiam diri dan duduk di rumah masing-masing sambil menangis. Berbeda de-ngan saya, saya termasuk yang paling muda dan paling kuat menahan ujian ini. Saya pergi keluar dan ikut shalat berjamaah, tetapi tidak ada satu pun yang mau berbicara dengan saya. Saya datangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan saya ucapkan salam kepada beliau saat berada di tempat duduknya seusai shalat. Saya berkata dalam hati, 'Adakah Rasulullah menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?!' Kemudian saya shalat di dekat beliau, saya mencuri pandangan. Saat saya sedang shalat, Rasulullah melihat kepada saya. Tapi bila saya menoleh kepadanya, beliau berpaling dari saya.

Setelah cukup lama orang-orang meninggalkan saya, suatu saat saya pergi memanjat dinding kebun Abu Qatadah dia adalah sepupu saya dan termasuk orang yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah dia tidak menjawab salam saya. Saya berkata, 'Wahai Abu Qatadah! Demi Allah aku bertanya, adakah engkau tahu bahwa aku ini mencintai Allah dan RasulNya?' Dia diam saja. Saya kembali bertanya tapi dia tetap diam. Saya bertanya sekali lagi, akhirnya dia juga menjawab, 'Allah dan RasulNya sendiri yang lebih tahu.' Air mata saya berlinang dan saya kembali memanjat dinding itu lagi.

Ketika saya berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada se-orang bangsawan dari Syam. Dia termasuk para pedagang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah. Dia berkata, 'Siapa yang dapat menunjukkan di mana Ka'ab bin Malik?'

Orang-orang yang ada di situ menunjukkannya. Setelah dia mendatangi saya, dia menyerahkan pada saya sebuah surat dari Raja Ghassan. Dalam surat itu tertulis, 'Aku telah mendengar bahwa kawanmu (yaitu Nabi Muhammad) telah meninggalkanmu, sementara engkau tidaklah dijadikan oleh Allah berada pada derajat yang hina dan terbuang. Datanglah kepada kami, kami akan menghiburmu.' Setelah membaca surat itu saya bergumam, 'Ini termasuk rangkaian ujian Allah.' Lalu saya bawa surat itu ke tungku dan membakarnya.

Setelah berlalu 40 hari dari total 50 hari , utusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada saya. Katanya, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyuruhmu untuk menjauhi isterimu!' Saya bertanya, 'Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?', dia menjawab, 'Tidak, jauhilah dia dan janganlah kau mendekatinya'. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengirimkan utusan beliau kepada dua rekan senasib saya. Maka saya meminta pada isteri saya, 'Pergilah kau ke tempat keluargamu. Menetaplah di sana sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memutuskan masalah ini!'

Ka'ab berkata, 'Isteri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata, 'Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah tua renta, dan dia tidak mempunyai pembantu. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Tidak, tetapi jangan sampai dia mendekatimu!' Isterinya menjawab, 'Demi Allah, dia sudah tidak bisa bergerak lagi dan dia masih tetap menangis sejak dia mempunyai masalah ini sampai hari ini juga.' Sementara itu sebagian keluarga saya berkata, 'Bagaimana sekiranya engkau juga minta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah isterimu, agar dia bisa melayanimu seperti isteri Hilal bin Umayyah.' Tetapi saya menjawab, 'Demi Allah, dalam masalah ini aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bila aku minta izin kepada beliau, sementara aku ini masih muda?!'

Saya berada dalam kondisi demikian selama sepuluh malam, sehingga jumlahnya 50 malam dari mulai pertama kali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang orang untuk berbicara pada kami. Pada hari yang ke-50, saya menghadiri shalat Subuh, setelah itu saya duduk-duduk, sementara kondisi saya persis seperti yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, diri sendiri terasa sempit, begitu juga bumi yang luas ini terasa sempit bagi saya. Saat saya duduk dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya mendengar suara orang yang berteriak dengan lantang di atas bukit, 'Wahai Ka'ab, bergembiralah!' Saat itu juga saya langsung sujud, saya tahu bahwa masalah saya akan berakhir. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengumumkan datangnya taubat (pengampunan) Allah atas kami bertiga saat beliau selesai shalat Subuh.

Banyak orang pergi menemui kami untuk menyampaikan kabar gembira. Sebagian mereka ada yang menemui dua kawan senasib saya, dan ada seseorang yang ingin menemui saya dengan berkuda. Sementara itu ada seorang Bani Aslam yang hanya berjalan kaki, lalu dia naik ke bukit dan meneriakkan kabar gembira pada saya. Ternyata suara itu lebih cepat dari pada kuda. Setelah orang yang naik ke bukit itu datang menemui saya untuk menyampaikan langsung, saya tang-galkan pakaian saya dan saya hadiahkan untuknya sebagai imbalan atas kabar gembiranya. Demi Allah, sebenarnya saya ini tidak mempunyai baju lagi selain itu. Akhirnya saya meminjam baju orang, kemudian berangkat menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang-orang datang berduyun-duyun mengucapkan selamat atas kabar gembira ini. Mereka mengatakan, 'Selamat atas pengam-punan Allah untukmu!' Setelah itu saya masuk ke dalam mesjid, di situ terlihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk di kelilingi banyak orang. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah bangun dan menuju ke arah saya dengan setengah lari. Dia menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangun selain dia, dan saya tidak akan melupakannya.

Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata dengan wajah bersinar penuh kegembiraan, 'Bergembiralah dengan datangnya sebuah hari yang paling baik yang pernah engkau lalui semenjak kau dilahirkan oleh ibumu.' 'Dari engkau atau dari Allah, ya Rasulullah?' tanya saya. Beliau menjawab, 'Bukan dariku, tapi dari Allah.' Dan demikianlah, bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang gembira, wajah beliau bersinar seperti bulan. Kami semua tahu hal itu. Setelah aku duduk tepat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, saya berkata, 'Wahai Rasulullah, sebagai pertanda taubat ini, aku akan melepas semua hartaku dan menjadikannya sebagai shadaqah untuk Allah dan RasulNya.' Rasulullah menjawab, 'Ambillah sebagian dari hartamu, ini lebih baik untukmu.' Saya berkata, 'Ya, aku akan mengambil jatahku yang aku dapatkan dari perang Khaibar.' Setelah itu saya ungkapkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sebagai pertanda taubatku kepada Allah, aku berjanji bahwa aku akan selalu berkata jujur selama hidupku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang muslim yang diuji oleh Allah dalam kejujuran kata-katanya melebihi ujian yang aku dapatkan.'

Dan sejak aku ungkapkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak pernah berdusta sampai hari ini. Saya memohon semoga Allah tetap menjaga saya selama sisa hidup saya. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firmanNya kepada RasulNya:
لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍۢ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ
 وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوٓا۟ أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ
"Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.." (At-Taubah: 117-119).

Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah Allah karuniakan kepada saya setelah nikmat hidayah Islam- yang lebih besar dari nikmat kejujuran saya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya tidak ingin berdusta tapi kemudian binasa seperti binasanya orang-orang yang telah berdusta. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan komentar tentang orang-orang yang berdusta di dalam wahyu yang diturunkanNya- dengan kata-kata yang sangat keras dan jelek.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
 سَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمْ إِذَا ٱنقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا۟ عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا۟ عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌۭ ۖ وَمَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
 يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا۟ عَنْهُمْ ۖ فَإِن تَرْضَوْا۟ عَنْهُمْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ ٱلْقَوْمِ ٱلْفَٰسِقِينَ
 "Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu rida kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu rida kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rida kepada orang-orang yang fasik itu.." (At-Taubah: 95-96).

Ka'ab berkata: "Kami bertiga tidak memperhatikan lagi orang-orang yang diterima alasan mereka setelah bersumpah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau menyumpah mereka dan memintakan ampun buat mereka, sementara itu beliau menangguhkan urusan kami sampai Allah sendiri yang memutuskan. Oleh karena itu Alah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan,''(Dan Allah juga telah menerima taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.''

Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah tidak ikut sertanya kami bertiga dalam perang, tetapi yang dimaksud adalah ditangguhkannya taubat kami serta tidak diikutsertakannya kami pada kelompok orang-orang yang telah ber-sumpah dan mengemukakan alasan dan diterima oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

Keberanian Tanpa Perhitungan


Berani terhadap kematian tanpa bekal yang kuat akan berakibat fatal.
Seorang tua memberi petuah kepada anaknya yang menjadi serdadu.
"Hati-hati jika engkau mendapat tugas maju ke medan perang. Usahakan tetap selamat."
"Seorang serdadu harus berani, Ayah. Juga berani mati dalam tugas," jawab anaknya dengan sikap tegas.
"Berani boleh-boleh saja. Termasuk berani mati. Tapi apakah engkau sudah punya bekal untuk hidup setelah mati nanti? Tampaknya engkau belum mempunyai bekal itu, karena engkau terlalu membanggakan diri sebagai serdadu hamba komandanmu, sehingga segala perintah komandanmu engkau jalankan tanpa reserve. Engkau sama sekali tak membanggakan diri sebagai hamba Allah, sehingga lebih sering melalaikan perintah-Nya. Padahal jika mati engkau akan menghadap Allah bukan menghadap komandanmu."

Apakah Tuhan Ada?



Dalam sebuah pesta ulang tahun anak komunis yang kaya raya di rumahnya, ia sengaja mengumpulkan anak-anak di sekitarnya dan ingin merusak pola pikir mereka agar tidak mengenal Tuhan. Salah satu anak seorang kiai terkenal diundang juga. Setelah anak-anak kumpul, sang komunis berkata:

"Anak-anak sekalian, Bapak mau tanya, 'Apakah Tuhan itu ada?' Ayo jawab siapa yang bisa menjawab Bapak kasih uang 500 ribu."

"Tuhan itu ada Pak," teriak salah seorang anak yang mengharapkan hadiah uang.

"Kalau ada, coba kamu minta uang sama Tuhan," ujar sang komunis menguji jawaban anak itu. Namun sang anak malah bingung dan diam.

"Kenapa diam? pasti Tuhan tidak memberi kamu uang kan? Nah, coba kalau kamu minta uang sama Bapak."

"Pak, minta uangnya dong," ujar anak tadi.

Lalu sang komunis itu segera memberikan selembar uang 100-an ribu.

"Nah, jadi Tuhan itu tidak ada, karena tidak dapat memberi kalian uang. Setuju enggak."

"Setuju...!!" Teriak anak-anak itu lalu mereka minta uang.

Sang komunis segera memberikan uang-uangnya.

Tiba-tiba terdengar jeritan, semua yang hadir menuju tempat tersebut. Ternyata anjing kesayangan sang komunis itu sedang sekarat akibat keracunan makanan. Sang komunis sangat sedih dan menangis.

"Maaf Pak, bisakah Bapak menghidupkan anjing kesayangan Bapak  itu?" tanya anak seorang kiai makrifat.

Sang komunis itu hanya terdiam sambil terus menangis. Lalu anak sang kiai itu berdoa dengan suara kencang.

"Ya Tuhan, tolonglah Bapak ini. Dia kebingungan karena anjingnya Kau buat sekarat. Ya Tuhan hidupkanlah anjing ini... karena aku yakin Tuhan itu ada."

Usai sang anak berdoa, dengan izin Tuhan, anjing yang sekarat itu mulai membaik. Semua yang hadir tersentak kaget. Sang komunis tersenyum senang.

"Ini nak, uang satu juta buat kamu. Karena kamu sudah menolong anjing Bapak," ujar sang komunis sambil memberikan uangnya.

"Tidak Pak, terima kasih. Ternyata Tuhan itu memang ada, kan Pak?" Kata sang anak itu lalu pergi pulang. Diikuti anak-anak yang lain sambil melempar uang 100 ribu yang dipegangnya.


Adu Kesombongan Tiga orang tua sedang berkumpul di sebuah rumah seorang kiai. Kebetulan ketiga orang ini termasuk yang sukses secara materi, mereka berbincang-bincang dengan seru.

Orang tua pertama, berkata, "Alhamdulillah, Allah telah memberikan aku rezeki yang berlimpah ruah. Hidupku sangat bahagia, punya 5 rumah mewah, kendaraan mewah 8 buah dan 15 perusahaan yang dikelola anak-anakku."

Orang tua kedua, "Saya juga sangat bersyukur, lima anak saya bergelar doktor. Mereka menjadi rebutan para pengusaha terkenal, gaji mereka di atas 30 juta. Saya sebagai orang tuanya hidup sangat bahagia."

Orang tua ketiga, "Alhamdulillah, saya ini punya istri empat dan 8 anak. Semua anak saya sudah mapan, 4 orang menjadi asisten menteri, 4 orang menjadi direktur di perusahaan asing. Mereka semuanya sangat baik, jadi saya bisa bermain ke mana saja dengan fasilitas anak-anak."

Dan pak kiai pun ikut berkata, "Wah, Alhamdulillah semua yang saya dengar dari bapak-bapak sangat hebat. Kalau saya jujur saja, di dunia ini belum ada yang bisa dibanggakan. Ibadah saya masih bolong-bolong, puasa suka tidak penuh, amal sangat sedikit. Bagaimana saya bisa hidup enak seperti bapak-bapak ini? Mudah-mudahan, saya bisa ikut menyombongkan diri kepada bapak-bapak di akhirat nanti. Soalnya saya baru bisa melihat sukses atau tidak hidup saya dan miskin atau kaya, baru nanti di akhirat kelak. Jadi saya tidak bisa sombong sekarang."

Ketiga orang tua itu tersenyum kecut penuh malu.

Selasa, 24 Juli 2012

DIBALIK KATA RAJAB



    Ada disebutkan bahwa pada kata”Rajab” terdapat tiga buah huruf. R’a menunjukkan rahmat Allah, jim menunjukkan jaram (dosa) hamba dan ba’ menunjukkan kebajikan Allah swt. Seakan-akan Allah swt berfirman: “Hai hambaku , Aku jadikan  dosa dan kesalahanmu  berada diantara rahmat dan kebajikanKu.Maka tidak lagi tersisa sebuah dosa atau kesalahan bagimu berkat kehormatan bulan Rajab.”  (Majalisul Anwar)  

Jumat, 20 Juli 2012


KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(Al-Baqarah 186)


Dari Anas Bin Malik,dari Nabi Muhammad SAW, Beliau bersabda;
Tiada sebuah do’a kecuali diantara do’a itu dengan langit terdapat penghalang sehingga seorang membaca solawat kepada Nabi Muhammad SAW, jika dia telah membaca Solawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka robeklah penghalang itu dan masuklah do’a itu. Tapi jika dia tidak mengerjakan itu, maka kembalilah do’anya.

HIKAYAT :

Ada seoorang Sholeh duduk Tasyahud dan dia lupa membaca Solawat kepada Nabi Muhammad SAW, lalu dia bermimpi dalam tidurnya, berdirilah Nabi Muhammad SAW, dan bersabda: Mengapa engkau sampi lupa membaca Solawat kepadaku...? Dia menjawab, Wahai Rasulullah, aku tenggelam dalam memuji Allah dan beribadah kepadaNya. Lalu lupalah aku berSolawat kepadaMu...Rasul bersabda: Bukankah engkau telah mendengar sabdaku : Segala amal akan dihentikan dan do’a do’apun akan ditahan hingga dibacakan Solawat kepadaku. Dan seandainya ada seorang hamba datang di hari Qiamat dengan membawa seluruh kebaikan penghuni dunia, tetapi tidak ada didalamnya bacaan Solawat kepadaku, tentu kebaikan itu akan dikembalikan kepadanya dan tidak diterima sedikitpun dari kebaikan itu (ZUBDATUN).

Diriwayatkan; Bahwa Nabi Musa bermunazat kepada Allah, Dia berkata dalam munazatnya, “Ya Tuhanku, apakah Engkau memuliakan seseorang seperti Engkau memuliakan aku??karena Engkau telah memberi aku dapat mendengar KalamMu” Allah berfirman:’” Hai Musa, sesungguhnya Aku mempunyai hamba-hamba yang akan aku keluarkan diakhir masa. Aku memuliakan mereka dengan bulan Ramadhan dan aku lebih dekat kepada mereka dari pada kepadamu. Karena aku menjatuhkan Kalam kepadamu, sedang antara engkau dan Aku terdapat tujuh puluh ribu Hizab (Penghalang). Tetapi ketika ummat manusia berpuasa dan bibir mereka telah memutih serta warna kulitnya kuning pucat, Aku akan mengangkat semua Hizab itu waktu mereka berbuka. Hai Musa, beruntunglah orang yang kering jantungnya dan lapar perutnya dalam bulan Ramadhan, lalu Aku tidak membalas mereka selain bertemu Aku”.

Maka seharusnya bagi orang yang mempunyai akal supaya mengerti kehormatan bulan Ramadhan ini dan mau memelihara hatinya dalam bulan itu dari dengki dan permusuhan terhadap semua kaum Muslimin.  Bersama semua itu diapun harus khawatir dan takut kepada Allah. Apakah Allah akanmenerima puasanya atau tidak??




 Karena ALLAH berfirman:
   وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًۭا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
 Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".(Al-Maidah 27).

Orang yang berpuasa kelak keluar dari kubur mereka, dan mereka mengenali puasa mereka sendiri – sendiri. Mereka menjemput beberapa hidangan,hadiah-hadiah dan cerek-cerek. Dikatakanlah kepada mereka : “ Makanlah..karena kamu telah meraasakan lapar pada saat manusia-manusia merasa kenyang. Minumlah, karena kamu telah kehausan pada saat manusia merasa segar dan nyaman.” Lalu mereka makan dan minum sedang manusia lain menghadapi Hisab,(TANBIHUL GHAFILIN).


KEUTAMAAN SHOLAT TARAWIH.

Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata : Rasulullah pernah ditanya mengenai keutamaan-keutamaan Sholat Tarawih dalam bulan Ramadhan, Beliau Bersabda:..
1.   Dalam malam ke 1, Seorang Mukmin akan keluar dari dosanya seperti hari ibunya melahirkannya.
2.   Malam ke 2 Diampunkanlah dia dan kedua orang tuanya jika keduanya beriman.
3.   Malam ke 3 Malaikat memanggil dari bawah Arsy, “Mulailah beramal tentu Allah akan mengampuni dosamu yang telah lalu”.
4.   Malam ke 4 Dia akan mendapat Pahala seperti membaca Taurat,Zabur,Inzil dan Al-Qur’an.
5.   Malam ke 5 Allah memberikan pahala, seperti orang yang mengerjakan Sholat Di Madjidil Haram, di Masjid Madinah Dan di Masjid Aqsa.
6.   Malam ke 6 Allah memberinya Pahala orang yang berthawaf di Baitul Ma’mur dan memohonkan ampun untuknya semua debu dan batu.
7.   Malam ke 7 Seakan-akan dia telah berjumpa Nabi Musa dan membelanya melawan Fir’aun dan Haman.
8.   Malam ke 8 Allah akan memberinya seperti apa yang diberikanNya kepada Nabi Ibrahim as.
9.   Malam ke 9 Seakan akan dia telah beribadah kepada Allah SWT, seperti ibadah Nabi Muhammad SAW.
10. Malam ke 10 Allah menganugerahkan kepadanya dan dua buah kebaikan dunia dan akhirat.
11. Malam ke 11 Ketika keluar dari dunia ini, dia seperti dia pertama kali dikeluarkan dari dalam rahim ibunya.
12. Malam ke 12 Dia akan datang dihari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan pada malam purnama.
13. Malam ke 13 Dia akan datang dihari Qiamat dalam keadaan aman dari segala sesuatu yang menyusahkan.
14. Malam ke 14 Para Malaikat akan datang bersaksi untuknya, bahwa dia benar-benar telah mengerjakan Sholat Tarawih,lalu tidaklah Allah menghisabnya di hari Kiamat.
15. Malam ke 15 Semua Malaikat pemikul Arsy dan pemikul Al Kursy mendoakan kepadanya.
16. Malam ke 16 Allah menulis untuknya kebebasan selamat dari Neraka dan kebebasan untuk masuk Surga.
17. Malam ke 17 Dia akan diberi pahala, seperti pahala para Nabi.
18. Malam ke 18 Malaikat memanggilnya, “Hai Hamba Allah, sesungguhnya Allah telah Ridho kepadamu dan kedua orang tuamu”.
19. Malam ke 19 Allah mengangkat derajatnya diSurga Firdaus.
20. Malam ke 20 Dia diberi pahala orang-orang mati syahid dan para sholohin.
21. Malam ke 21 Allah membangun untuknya sebuah gedung dari Nur di Surga.
22. Malam ke 22 Dia akan datang dihari Kiamat dengan aman dari segala macam kesusahan dan kesedihan.
23. Malam ke 23 Allah membangun untuknya sebuah kota di Surga.
24. Malam ke 24 Dia akan memiliki 24 doa yang dikabulkan.
25. Malam ke 25 Allah akan menghilangkan siksa kubur dari dirinya.
26. Malam ke 26 Allah akan mengangkat pahalanya selama 40 tahun.
27. Malam ke 27 Dia akan lewat diatas Shiroth dihari Kiamat seperti kilat yang menyambar.
28. Malam ke 28 Allah akan mengangkat 1000 derajat untuknya di Surga.
29. Malam ke 29 Allah memberinya Pahala 1000 kali ibadah haji yang diterima.
30. Malam ke 30 Allah berfirman : “ Hai Hambaku, makanlah dari buah-buahan Surga, mandilah dari air sungai salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar,Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hambaKu ”.
Hadist Rasulullah SAW:
.Dari Aisyah ra, dan dari Nabi Muhammad SAW,beliau bersabda:
Barang siapa yang ber i’tikaf dengan beriman dan mencari pahala (beriman tentang pahalanya dan ikhlas karena Allah)maka diampunilah segala dosa-dosanya yang telah lalu (Bukhari Muslim).
Dan dari Aisyah ra. Dia berkata :
“ Nabi Muhammad SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sehinggga beliau wafat “. Kemudian beri’tikaf pada istri-istri beliau sepeninggalnya,,, yakni mereka beri’tikaf dirumahnya masing-masing. Karena itu para ulama Fuqaha berkata bahwa disunnatkan bagi perempuan beri’tikaf ditempatnya masing-,masing.(Syarhul Masyariq)